BERITADENYUT.COM | BANDA ACEH — Pergantian Heri Julius dari posisi Sekretaris DPW Partai NasDem Aceh perlu dilihat secara proporsional. Perubahan struktur kepengurusan partai merupakan bagian yang lazim dalam dinamika organisasi politik dan tidak otomatis menunjukkan adanya persoalan atau konflik internal.
Heri Julius sendiri sebelumnya dikenal sebagai Ketua DPD Partai NasDem Kota Banda Aceh sekaligus menjalankan tugas sebagai Sekretaris DPW NasDem Aceh. Dalam penataan organisasi, dua posisi strategis pada tingkatan berbeda tentu membutuhkan fokus, konsentrasi dan pembagian tugas yang jelas.
Karena itu, reposisi tersebut dapat dipahami sebagai pilihan penataan organisasi: Heri tetap dapat memusatkan perhatian pada kepemimpinan NasDem di Kota Banda Aceh, sementara posisi Sekretaris DPW dipercayakan kepada kader lain, yakni Yunardi Natsir.
Artinya, tidak tepat jika pergantian tersebut langsung ditafsirkan sebagai bentuk konflik, ketegangan atau masalah antara Heri Julius dengan jajaran pimpinan NasDem Aceh. Justru, berdasarkan pemberitaan yang beredar, Heri menyatakan menghormati dan menghargai keputusan tersebut. Ia juga menegaskan tetap akan mengawal kepentingan dan perolehan kursi NasDem di daerah pemilihannya sebagai anggota DPRA.
Dalam organisasi politik, perubahan posisi merupakan hal yang biasa. Jabatan dapat berubah sesuai kebutuhan organisasi, sementara hubungan kader dengan partai tetap berjalan.
Dengan demikian, posisi Heri Julius sebaiknya tidak dipersepsikan sebagai “tersingkir” dari Partai NasDem. Yang berubah adalah posisi strukturalnya, sedangkan kiprah politik dan pengabdiannya sebagai kader tetap dapat berjalan.
Di sisi lain, masuknya Yunardi Natsir sebagai Sekretaris DPW NasDem Aceh juga merupakan bagian dari penyegaran struktur. Ketua DPW NasDem Aceh menyebut reposisi tersebut sebagai bagian dari penguatan struktur dan konsolidasi organisasi menghadapi agenda politik ke depan.
Karena itu, publik tidak perlu membawa perubahan struktur ini ke arah spekulasi yang berlebihan. Heri Julius memiliki ruang untuk menentukan fokus pengabdiannya di tingkat Kota Banda Aceh, sementara Yunardi Natsir menjalankan amanah baru di tingkat provinsi.
Pada akhirnya, yang paling penting bukan siapa yang bergeser dari sebuah jabatan, tetapi bagaimana seluruh kader tetap menjaga soliditas organisasi dan bekerja untuk kepentingan masyarakat. NasDem Aceh berganti struktur, bukan berarti berganti hubungan. Penataan jabatan adalah dinamika organisasi, sementara soliditas partai tetap menjadi kepentingan bersama.














