Sabtu, 31 Oktober 2026 Indeks RSS Login Redaksi
TERBARU
Australia Dukung Penguatan Demokrasi di Aceh melalui Program Partisipasi Perkuat Peran PKK, Mukarramah Fadhlullah Dorong Semangat Gotong Royong Masyarakat Mukarramah Fadhlullah Hadiri Pembinaan Pokja Bunda PAUD di Aceh Tenggara, Dorong Penguatan Pendidikan Anak Usia Dini Persoalan CCTV Ditindaklanjuti, RSUDZA Pastikan Pelayanan Tetap Profesional Ketua Pokja Bunda PAUD Aceh Dorong Penguatan Pendidikan Anak Usia Dini di Gayo Lues Kak Na Semangati Anak Binaan di LPKA Lambaro Harumkan Nama Aceh di Malaysia, Atlet Muaythai Pulang dengan 4 Emas dan 2 Perak Stafsus Gubernur Aceh Nektu Bahas Progres Pemulihan Lahan Pertanian dengan Plt Kadistanbun Rancangan APBA 2027 Disampaikan, Pj Sekda Aceh Hadiri Rapat Paripurna DPRA Wagub Aceh Hadiri Maulid Nabi dan Doa Bersama Mengenang Bencana Gayo
Opini

APBA 2027 Harus Berpihak kepada Rakyat, Bukan Terjebak Rutinitas Belanja

APBA 2027 Harus Berpihak kepada Rakyat, Bukan Terjebak Rutinitas Belanja
Nasrul Sufi, Direktur Aceh Social Development (ASD)

Oleh: Nasrul Sufi, Direktur Aceh Social Development (ASD)

Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2027 harus menjadi momentum untuk memperbaiki arah pembangunan Aceh. Di tengah berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang masih dihadapi masyarakat, kebijakan anggaran tidak boleh sekadar berorientasi pada penyerapan belanja, tetapi harus mampu menghadirkan dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat.

Persoalan mendasar dalam tata kelola anggaran bukan hanya berapa besar dana yang dialokasikan, melainkan sejauh mana anggaran tersebut menghasilkan public value atau nilai manfaat publik. Pembangunan harus diukur dari perubahan yang dirasakan masyarakat, mulai dari terbukanya lapangan kerja, meningkatnya pendapatan keluarga, membaiknya pelayanan kesehatan, hingga tersedianya infrastruktur yang mendukung aktivitas ekonomi.

Karena itu, penyusunan APBA 2027 membutuhkan perubahan paradigma, dari pendekatan budget spending atau sekadar membelanjakan anggaran menuju performance-based budgeting, yakni penganggaran berbasis kinerja dan hasil.

Pemerintah Aceh perlu memastikan bahwa setiap program memiliki indikator capaian yang jelas, target yang terukur, serta mekanisme evaluasi yang transparan. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya dinilai dari realisasi anggaran, tetapi juga dari efektivitas program dan manfaatnya bagi masyarakat.

Sektor-sektor yang bersentuhan langsung dengan kehidupan rakyat harus memperoleh perhatian serius. Penguatan ekonomi UMKM, perlindungan petani dan nelayan, penciptaan kesempatan kerja bagi generasi muda, peningkatan kualitas pendidikan, serta pelayanan kesehatan yang terjangkau perlu menjadi prioritas strategis.

Di sisi lain, belanja birokrasi harus dikelola secara proporsional. Efisiensi bukan berarti memangkas kebutuhan pelayanan publik, melainkan memastikan bahwa penggunaan sumber daya fiskal benar-benar berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Transparansi dan akuntabilitas juga menjadi prasyarat penting. Masyarakat berhak mengetahui program apa yang dibiayai, siapa penerima manfaatnya, serta bagaimana hasil pelaksanaannya. Pengawasan yang kuat akan membantu mencegah pemborosan dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.

APBA 2027 juga perlu disusun dengan mempertimbangkan keberlanjutan fiskal Aceh, terutama dalam menghadapi perubahan kapasitas pendanaan daerah. Perencanaan yang realistis, berbasis data, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat menjadi semakin penting agar program prioritas tidak berhenti di tengah jalan.

Pada akhirnya, APBA bukan sekadar dokumen administratif tahunan. Ia merupakan instrumen kebijakan publik yang menentukan arah pembangunan dan kualitas kehidupan masyarakat.

Aceh membutuhkan anggaran yang produktif, inklusif, dan berorientasi pada hasil. Pemerintah, DPRA, serta seluruh pemangku kepentingan perlu memastikan bahwa setiap rupiah uang rakyat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat.

Sebab, keberhasilan pembangunan tidak ditentukan oleh seberapa besar anggaran yang dihabiskan, melainkan oleh seberapa nyata kesejahteraan yang berhasil diwujudkan.

Nasrul Sufi

Direktur Aceh Social Development (ASD)

Iklan

Berita Terkait

Baca Juga